Pelajar Berprestasi Asal Jogjakarta ini Demi Bersekolah, Rela Bersepeda 25 Km Setiap Hari dan Tidak Jajan, Berangkat Pukul 5 Pagi

Posted on

Keterbatasan ekonomi keluarga tidak membuat sosok Okti Sulistiani Sari (16) untuk berhenti bersekolah. Segala keterbatasan yang ada justru membuat remaja perempuan asal Karanggede, Gilangharjo, Kematan Pandak, Bantul, ini semakin semangat untuk meraih masa depan yang lebih baik.

siswi_20170111_155358-iloveimg-compressed

Dilansir dari laman tribunnews.com, demi tetap bersekolah, Okti rela mengayuh sepedanya sejauh 25 kilometer setiap hari menuju sekolahnya di MAN 1 Kota Yogyakarta di Jalan C. Simanjuntak.

“Naik sepeda dari Bantul sampai sekolah (MAN 1 Kota Yogyakarta), jaraknya sekitar 25 kilometer. Kira-kira dua jam-an lah dari rumah sampai sekolah, berangkat jam 5 pagi,” ujar Okti.

Naik sepeda adalah satu-satunya cara Okti untuk tetap bisa sekolah, karena dia tidak mempunyai sepeda motor maupun biaya untuk naik bus kota. Selain itu, dia juga tidak ingin lagi menambah beban keluarga yang telah mengeluarkan uang untuk membiayai sekolahnya. Apalagi masih ada satu adiknya yang juga harus bersekolah.

“Ayah sekarang membantu ibu di warung, dulu buruh bangunan. Saya tidak ingin menambah beban orang tua, jadi naik sepeda saja,” ucapnya.

Perjalanan yang cukup jauh itupun tidak pernah membuat Okti mengeluh. Bersepeda di saat hujan dan terik matahari sudah menjadi bagian dari hidupnya sehari -hari demi mendapatkan bekal ilmu di sekolah.

“Kehujanan pernah, yang penting buku pelajaran jangan sampai basah. kalau capek ya capek tapi kan di rumah bisa istirahat,” tuturnya.

Menurut Okti, awalnya orangtua tidak setuju saat ia memilih untuk melanjutkan sekolah ke MAN 1 Kota Yogyakarta karena jaraknya jauh dari rumah.

“Awalnya orangtua tidak setuju, tetapi saya ingin mencari pengalaman sekolah di Kota Yogya. Alhamdulilah lewat jalur prestasi saya bisa sekolah di sini (MAN 1 Kota Yogyakarta),” ucapnya.

Melihat jarak yang lumayan jauh, orangtua Okti lantas meminta agar putri pertamanya ini masuk ke Pondok Pesantren agar lebih dekat ke sekolahnya. Walaupun sempat keberatan dengan usulan orangtuanya, Oki akhirnya masuk ke pondok pesantren di daerah Tegalrejo, Kota Yogyakarta.

Baca juga:  Luar Biasa, Melewati Hutan Sendirian Hingga Jalan Berlumpur, Semangat Guru Muda Ini Bikin Kagum

“Satu bulan di Pondok saya keluar, karena biaya. Akhirnya saya memutuskan tinggal di tempat Nenek di Mlati, Sleman,” tuturnya.

Jarak dari rumah neneknya di Jaten, Sendangadi, Mlati, Sleman, ke MAN 1 Kota Yogyakarta berjarak sekitar 10 kilometer. Jarak ini setiap hari ditempuhnya dengan naik sepeda kurang lebih sekitar 45 menit dari rumah neneknya ke sekolah.

Dia juga berusaha untuk menghemat pengeluarannya dengan tidak jajan di kantin sekolah maupun jajan di jalan. Oleh sebab itu Oki lebih memilih untuk sarapan di rumah.

“Uang saku ada, tetapi saya tidak jajan biar hemat. Pagi pokoknya sarapan yang banyak biar siang tidak lapar,” kata Okti sambil tertawa.

Sepeda yang menemaninya setiap hari ke sekolah merupakan hasil dari tabungan ibunya. Dia dibelikan sepeda saat masih duduk di MTs.
“Dulu ibu menabung untuk beli sepeda ini. Saya waktu itu masih di MTs Kota Bantul,” tuturnya.

Berkat tekadnya yang kuat dalam menempuh pendidikan, pihak sekolah MAN 1 Kota Yogyakarta akhirnya memberikan bantuan kepada Okti berupa sepeda baru.

“Kemarin sekolah membelikan sepeda baru. Sepeda dari ibu , rencananya akan dibawa pulang kerumah Bantul, kan bisa digunakan kalau dirumah,” tuturnya.

Remaja yang saat ini duduk di Kelas 1 ini mengaku bercita-cita ingin menjadi seorang pengusaha. Dia juga memiliki keinginan supaya kelak bisa membantu kedua orangtuanya serta membantu biaya sekolah adiknya.

“Pendidikan itu penting demi masa depan, saya ingin jadi pengusaha. Saya ingin membahagiakan dan membuat bangga orang tua serta kelak semoga bisa membantu adik,” katanya.

Selain pendidikan, Okti juga hobi olahraga sama seperti pelajar lainnya. Namun, sifatnya yang ramah ini membuat orang lain tidak akan menyangka kalau anak pertama pasangan Irwan dan Ari Tri Winarti ini adalah seorang atlet karate. Bahkan Okti berhasil menorehkan prestasi dari bela diri yang digelutinya sejak di MTs ini yaitu meraih juara 3 Karate tingkat DIY dan juara harapan 1 Karate tingkat Jawa-Bali.

Baca juga:  Wow, Aksi Sopir Bus Berhijab ini Bikin Netizen Gagal Fokus...

“Saya ikut Karate Kyokushin saat di MTs, sering ikut kejuaraan dan Alhamdulilah beberapa kali juara. Terakhir juara harapan 1 Jawa-Bali,” tuturnya.

Selain prestasi di bidang olah raga bela diri, Okti juga mengukir prestasi di bidang akademis. Dia berhasil meraih juara 3 pidato Bahasa Inggris tingkat DIY, Juara 2 pidato Bahasa Arab tingkat DIY, dan Juara 2 LKTI (Lomba Karya Tulis Ilmiah) tingkat DIY.

“Kuncinya kerja keras, belajar yang rajin, keterbatasan bukan halangan. Ke depan saya akan kerja keras lagi untuk lebih baik,” tandasnya.

Singgih Sampurno, Waka Kesiswaan MAN 1 Yogyakarta mengatakan, Okti merupakan siswa yang sangat sederhana.
Namun di balik kesederhanaannya itu, dia menorehkan banyak sekali prestasi.

“Sederhana, baik, dan berprestasi. Di kelas, (Okti adalah) siswa yang aktif dan nilainya baik,” ujarnya.
Okti yang memilih menggunakan sepeda ke sekolah, bisa menjadi contoh yang baik bagi pelajar lain karena saat ini, Yogyakarta sudah mulai macet.

Menurut dia, di MAN 1 Kota Yogyakarta, saat ini ada sekitar 60 Siswa yang berangkat ke sekolah dengan menggunakan sepeda. Namun jarak yang ditempuh oleh Okti lebih jauh dibandingkan siswa lainnya.

Setiap tahun, pihak sekolah selalu memberikan bantuan sepeda kepada para siswa yang tidak mampu. Dan tahun ini, Okti yang terpilih untuk mendapatkan bantuan sepeda dari sekolah.
“Setiap tahun sekolah memberikan bantuan sepeda. Kemarin Okti disuruh memilih sendiri sepeda yang diinginkan,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *